Tinggalkan komentar

Pembahasan Near-death experience (NDE) dari sudut pandang pseudoscience


Near-death experience (NDE) merupakan pengalaman individu yang berhubungan dengan kematian atau menjelang kematian. Pengalaman yang dimaksud bervariasi seperti sensasi terlepas dari tubuh, perasaan melayang, aman, tenang, hangat, sensasi melebur, dan keberadaan cahaya. NDE dianggap bagian dari kepercayaan terhadap kehidupan setelah kematian. NDE telah dialami dan diceritakan oleh banyak orang dan dianggap sebagai keadaan atau peristiwa yang nyata dan dapat dijelaskan oleh sains. (Sleutjes, et al., 2014)

NDE menurut neuroscience adalah fenomena subjektif akibat terganggunya integrasi dari indra tubuh yang terjadi selama peristiwa sangat berbahaya. NDE dapat disebabkan oleh koma, kecelakaan, mimpi, obat obatan, stress, operasi, kekurangan oksigen mendadak, rangsangan otak, orgasme, dan perampasan. Tidak ditemukan ketentuan diagnosa tertentu dari penderita NDE sama halnya dengan gangguan jiwa lainnya. Pada dasarnya penderita NDE tidak mengalami kematian. Hanya saja mereka mengalami anomali neurologi, abnormalitas atau kekacauan yang didokumentasikan oleh neurologis dan neuroscientis. Anomali yang terjadi ini hanya berlangsung sesaat. (Parnia, 2014)

NDE sulit untuk dijelaskan dengan pengetahuan tentang fisiologi dan psikologi saat ini sehingga studi ini tergolong pseudoscience. Ketika dilakukan pengujian terhadap peristiwa ini, sulit untuk didapatkan data yang samar dan tidak presisi dari hasil wawancara akibat pengaruh dari latar belakang agama dan sosial, serta sulit untuk mengukur peristiwa ini karena dibentuk di dalam pikiran. (Kendrik, 1981) Namun demikian para ahli psikologi dan fisiologi berusaha untuk menjelaskan fenomena ini melalui pendekatan sains. Bahkan sudah dibentuk simulasi komputer untuk mengungkap fenomena ini. (Thaler, 1995)

Penilitan terbaru menemukan bahwa fenomena NDE dapat diinduksi dengan ketamine, senyawa halusinogenik, anestetik dissosiatif berhubungan dengan PCP. Ketamine dapat memutar ulang peristiwa yang dideskripsikan oleh penderita selama fenomena NDE terjadi. Penjelasan mengenai hal ini berhubungan dengan reseptor NMDA yang berperan dalam pemrosesan kognitif. Pada daerah ini berhubungan juga dengan epilepsi ketika kerusakan neuron menyebabkan keberadaan glutamat sebagai neurotransmitter. Ketamine mencegah kerusakan yang terjadi pada epilepsi. Otak melepaskan neuroprotective untuk glutamat sehingga reseptor NMDA terhalang, sama halnya ketika NDE. (Jansen, 1996)

Referensi
Jansen, K. L. (1996). Using ketamine to induce the near-death experience: mechanism of action and therapeutic potential. Yearbook for Ethnomedicine and the Study of Consciousness, 4, 51-81.
Kendrick, F. (1981). Paranormal borderlands of science. Prometheus Books.
Parnia, S. (2014). Death and consciousness––an overview of the mental and cognitive experience of death. Annals of the New York Academy of Sciences, 1330(1), 75-93.
Sleutjes, A., Moreira-Almeida, A., & Greyson, B. (2014). Almost 40 years investigating near-death experiences: An overview of mainstream scientific journals. The Journal of nervous and mental disease, 202(11), 833-836.
Thaler, S. L. (1995). “Virtual input” phenomena within the death of a simple pattern associator. Neural Networks, 8(1), 55-65.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: